Wednesday, November 16, 2016

Saya tinggal di desa

Siang ini saya berjalan, seperti biasa. Karena saya tidak mengayunkan langkah pagi tadi, jadi saya harus membayarnya siang hari. Berjalan kaki, meskipun sudah menjadi kebiasaan, meskipun saya melangkah ke tempat yang itu-itu juga di sekitar rumah, selalu memberi saya pemandangan baru. Ya, selalu saja ada bunga merah atau ungu yang baru berbunga, atau ada anak bermain dengan temannya, atau mbak pengasuh yang sedang menyuapi gadis kecil usia tiga tahunan, atau bapak petani yang menyusur pematang hendak pulang ke rumahnya di tepian sawah.
Sawah? Ya. Dengan penuh kebahagiaan saya harus mengakui bahwa saya tinggal di desa. Yaaah, desa setengah kota gitu deh. Ada Alfamart, ada toko dan warung kecil dekat rumah, ada perumahan-perumahan yang baru dibangun, tapi juga masih ada sawah kecil dan kebun bunga potong.
Dulu, ketika saya baru pindah ke "desa" ini, sekitar 5 tahun lalu, kebun bunga potong di sekitar rumah saya lebih banyak lagi, ada bunga sedap malam, ada bunga kuning seperti daisy, ada bunga ungu kecil-kecil yang tak saya ketahui namanya. Kalau tiba musim panen, bunga-bunga tumbuh mekar setinggi betis, berderet-deret membentuk lautan bunga warna-warni.. Biasanya dipotong dan diikat. Kerap saya bertemu dengan ibu-ibu yang memanggulnya, atau ada yang mengangkutnya naik mobil kap, juga ada yang membawanya naik motor. Saya hampir tak pernah membiarkan ikatan bunga2 potong itu menganggur tanpa dipotret. Terlalu cantik untuk dibiarkan teronggok begitu saja di tepi jalan. Menurutku, bunga-bunga itu serupa wanita, kalau cantik ya tampak cantik meskipun belum dirangkai menjadi satu buket dengan pita dan aksesoris. Wanita juga begitu kan? Kalau memang cantik, meski tanpa polesan sedikit pun, akan tampak, apalagi orang-orang yang punya kelebihan kecantikan alamiah dari dalam dirinya, dan bukan hanya sekedar wajah dan fisik belaka. Cantik banget.
Kembali ke "desa" saya tadi. Sekarang ini, beberapa kebun bunga di sekitar rumah saya sudah menjadi perumahan, sehingga saya kehilangan pemandangan indah itu. Saya kira, sawah juga kelak akan mengalami nasib yang sama, menjadi perumahan.
Berarti kelak, saya akan kehilangan "desa" ini, dan berdirilah pohon-pohon beton serta besi. Yaah, setidaknya, saya sudah memotretnya, sebagai kenangan dan cerita bahwa tempat ini, di masa yang lalu, pernah menjadi kawasan yang sangat asri, pernah menjadi desa, sebelum berubah menjadi kota yang hiruk pikuk tanpa tanaman.

Kelabu

Sore ini aku mengenakan baju tidur warna kelabu. Karena aku teringat 
kamu? Mungkin. Apa hubungannya daster kelabu dan ingatan tentang 
dirimu? Cuma aku yang tahu, tak seorang pun lainnya. Barangkali kamu 
tahu? Mungkin.... 
Kelabu. Setahu aku, itu warna kesukaanmu. Bertahun lalu pernah kau 
katakan itu padaku. Bagiku, itu warna ragu, warna yang tak pasti, 
campuran dari dua warna kesukaanku, hitam dan putih. Aku tak pernah 
tahu kenapa kamu menyukainya. Beberapa sweatermu juga berwarna kelabu. 
Apakah karena kamu selalu ragu? Atau karena hidupmu sendu? 
Ya, kelabu itu identik dengan kemuraman, dengan awan bergumpal 
menjelang hujan, dengan mendung, yang nyaris tak mampu menahan hujan 
untuk menetes. 
Kelabu, barangkali, adalah tatapan sendu seorang pencinta, saat 
airmata hampir tumpah, ketika rindu membelenggu. 
Kelabu, bukan hitam dan bukan putih. Dia adalah ketidakpastian. Dia 
adalah rasa haru yang menelusup dalam hening malam tanpa gemintang. 
Mungkin kelabu adalah warna rindu, warna diri yang membisu dan penanda 
dari rasa ketidakmampuan yang akut. 
Dan sore ini aku mengenakan baju tidur berwarna kelabu, warna 
kesukaanmu, warna sendu, warna beku, menghantar beribu rindu, 
kepadamu....

Mencoba memotret

 
Foto ini diambil dengan kamera saku Sony, tapi dijepret dengan tablet. Hanya sekadar mencoba mengkontrol kamera dengan menggunakan perangkat lain, dengan menggunakan wifi yang terdapat di dalam kamera tersebut. Mungkin bagi orang lain biasa saja, tapi bagi saya, ini menyenangkan sekali. Rasanya lucu saja ketika saya bisa memotret dengan menggunakan tablet, tapi yang dijepretkan adalah sebuah kamera.
Teknologi seringkali membuat saya melongo dan bergumam pelan: "kok bisa ya?". Dan pertanyaan ini memang tidak perlu dilanjutkan. Ya bisa. Begitu saja. Dan saya tinggal menggunakannya dengan baik. Saya tahu, semua dibuat untuk memudahkan, bukan untuk mempersulit, dan juga bukan untuk melakukan hal2 yang tak karuan. Demikian saja kiranya.
 
 
 
Sent from Samsung tablet

Sunyi


Dear, kata teman-teman, foto-foto hasil jepretanku seringkali menggambarkan kesunyian.
Mungkin mereka benar. Barangkali perasaanku selalu ikut masuk ke dalam foto, rasa yang hening dan sunyi tak bertepi.
Sunyi itu apa sih? Bagiku, sunyi adalah rasa yang tak ada hubungannya dengan jumlah orang di sekitar. Sunyi bukan hanya terasa di hutan raya , di pegunungan atau di pantai ketika bukan musim liburan. Tapi bisa jadi juga dirasakan di saat kita berada di keramaian, mungkin di pasar atau di mall, atau di tempat reuni. Di mana pun.
Ketika teman-teman berceloteh tentang pasangan hidup dan anak-anak mereka. Ketika di mall simpang siur orang lalu lalang, ketika di pasar banyak orang riuh tawar menawar, aku lebih sering diam mengamati ketimbang ikutan bicara. Aku tidak tahu apakah aku bisa membicarakan masalah anak-anak kepada teman-teman masa lalu yang hadir dalam reuni. Rasanya berat dan tak perlu diceritakan. Aku tak yakin akan bisa hiruk pikuk menawar di pasar, atau larut dalam keramaian di mall.
Tidak. Aku memilih diam-diam saja di pojokan. Sunyi dan hening. 
Bagiku, sunyi itu tidak identik dengan sepi. Sunyi itu tak berarti merasa kesepian. Sunyi adalah warna pastel, warna warni lembut yang kusuka, bukan merah atau kuning terang yang meriah.
Dalam hidup, setiap orang punya tempat masing-masing yang membuatnya merasa nyaman. Ada yang lebih suka di keramaian, lebih suka berkumpul dan mengobrol, dan ada juga yang merasa tersiksa di keramaian, lebih suka tempat sunyi.
Mungkin aku termasuk kelompok ini, dan "rasa" sunyi-ku ikut menyelinap dalam kebanyakan foto-fotoku, apa boleh buat.
Aku tahu dear, kamu, seperti juga aku, adalah penggemar sunyi. Kita sama-sama percaya, bahwa tanpa kata, kita bisa saling bicara dan mengkomunikasikan sesuatu. Lha itu terbukti, aku tak berkata apa-apa, dan orang bilang foto-fotoku sunyi....

Musim Hujan

Sekarang musim hujan sudah dimulai. Setiap siang menjelang sore selalu saja gelap kelabu di langit sebelah sana, pertanda hujan akan turun deras. Pergi kemana-mana harus berbekal jas hujan supaya tak basah kuyup,.
Musim air tercurah seperti ini selalu menyisakan rasa yang sulit digambarkan, mirip-mirip dengan kesunyian, atau juga sendu kelabu yang identik dengan kesepian. Biasanya, air hujan banyak memberi inspirasi menulis dan ide memotret, dan catatan-catatan serta foto-foto yang dihasilkan akan merekam rasa itu dengan utuh. Maka sepi akan terasa pekat, serakan daun di tepi jalan akan menghadirkan foto berwarna pastel atau warna terracota pias, bukan foto jernih tajam yang bercerita tentang musim panas.
Aku kerap bertanya tentang rasa yang hadir bersama angin dingin ini. Rasanya bukan sepi biasa, bukan senyap semata. Ada yang menelusup diam-diam dan mendinginkan hati. Seperti rasa ingin berlari mencari, atau mengais tumpukan peristiwa masa lalu yang selamanya tersimpan diam2 dan nyaris terlupakan. Bukankah itu satu kata yang seringkali mengundang baris-baris kisah yang berantakan tak terurus, kisah perjalanan yang mengundang senyum dan airmata.
Ah bukankah ini yang disebut rindu? :)
Selamat malam, sumber kerinduan....

Ramah Tamah




Saya naik angkot, duduk di depan 2 orang ibu yang baru saja berkenalan karena ibu yang satu memberi tempat duduk kepada ibu lainnya. Sepanjang jalan mereka bercakap-cakap, saling memberi info pekerjaan masing-masing, bercerita tentang anak-anak. Ibu yang satu bahkan memperlihatkan foto putrinya di ponselnya, dan bercerita bahwa putrinya itu sudah dilamar oleh seorang dokter. Wow. 
Saya? Karena saya duduk tepat di depan mereka, maka saya jadi mendengar pembicaraan mereka. 
Di mana pun, saya selalu senang mengamati sikap dan perilaku orang. Hal itu selalu menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang ragam manusia. Paling tidak, saya jadi tahu, betapa ajaibnya manusia, ada yang cengeng, ada yang ramai, ada yang tenang, ada yang penggembira, pemarah, penyedih, dan ramah tamah. Itu semua kan memperkaya khasanah pengetahuan saya, dan mudah-mudahan juga bisa membuat saya lebih mawas diri dan bijaksana dalam bersikap. 
Kembali kepada kedua ibu tadi, ramah tamah, nah itu dia. 
Saya selalu terpesona dengan orang yang ramah tamah. Seperti ibu-ibu yang saya ceritakan tadi. Mengagumkan lho, di dalam angkot, dalam waktu tidak sampai setengah jam, tanpa berkenalan dan tahu nama, beliau-beliau ini bisa bercerita tentang diri masing-masing, anak-anak, keluarga, tetangga, calon menantu, dan sebagainya. 
Kalau saya? Waah, sulit sekali bagi saya untuk membuka diri sedemikian. Kalau di angkot, ya duduk manis di pojokan, menggeser duduk, memberi tempat pada "pendatang baru". Sudah. Paling-paling ketika turun, lantas bilang "mangga tipayun" (mari, duluan). Itu sudah top. 
Mungkin karena saya tipe melankolis sempurna, dan bukan sanguin. Mungkin karena saya introvert. Mungkin karena saya individualistis dan kelewat tidak perduli dengan sekitar. Saya cuma mencoba merasakan bahwa tidak semua orang nyaman dengan keramahan dan keakraban di awal pertemuan dengan seseorang. Ada orang yang suka, tapi bukan tak mungkin, ada juga yang merasa terganggu. 
Nah itu. Di tempat umum, dengan orang yang sama sekali tidak dikenal, mungkin ada baiknya menimbang, apakah akan bersikap sangat karib dan membuka diri, atau justru menjaga ucapan, secukupnya saja. 
Ah saya jadi ingat, kalau naik kereta Parahyangan, orang di sebelah saya kadang bertanya: "ke Jakarta mbak?", pertanyaan standar untuk membuka pembicaraan. Dan saya melongo. Lho, bukannya sudah jelas ya arah tujuan kereta tersebut? 
Dan saya hanya menjawab: "Iya." 
Sudah, tamat deh percakapan, sampai Jakarta. Hehehe. 
Ck, kelihatannya saya memang nggak ramah tamah. Demikianlah.

Memahami

Belajar memahami orang lain itu pelajaran mahal. Belajar mengerti 
bahwa setiap manusia itu unik adanya dan tidak serupa. Belajar 
memahami berarti berupaya untuk berbesar hati menerima kekurangan 
orang lain, menerima bahwa tidak ada manusia yang sempurna. 
Sayangnya, seringkali yang terakhir ini yang menjadi masalah. Melihat 
kekurangan orang lain itu jauh lebih mudah daripada melihat kekurangan 
diri sendiri. Orang cenderung mencerca, menuding orang lain, dan lupa 
bahwa dirinya juga memiliki kekurangan yang mungkin lebih besar 
daripada yang dituding. 
Perlu keluasan hati. Butuh kedewasaan pemikiran untuk menjaga jari 
telunjuk agar tak menuding, untuk menjaga mulut dari kebiasaan 
mengejek dan mencerca. Demikianlah.

Sakit

"Terimakasih Tuhan, karena dengan sakit aku melepaskan diri dari semua manusia di dunia, sedekat apapun, sekarib apapun hubunganku dengan mereka. Rasa sakit yang engkau berikan kepadaku membuatku sadar bahwa secinta apapun seseorang kepadaku, dia tidak akan bisa menggantikanku untuk merasakan apa yang kurasakan. Engkau membuka mataku lebar-lebar bahwa sesungguhnya aku mempunyai banyak teman untuk bersama-sama menyusuri jalan hidupku, tapi tidak ada seorang pun yang dapat menggantikanku untuk melangkahinya. Engkau tidak pernah salah, selalu memberikan sesuatu yang berharga bagiku pada saat yang tepat, saat yang terbaik. Dan aku tahu, selalu ada cerita, selalu ada alasan atas segala sesuatu yang terjadi kepadaku. Aku tidak pernah tahu apa cerita di baliknya. Yang aku tahu adalah bahwa segala yang Engkau berikan kepadaku selalu merupakan sesuatu yang terbaik untukku. Mungkin untuk membuatku lebih kuat, membuatku lebih tangguh, membuatku terus menerus menjadi lebih baik dari sebelumnya..."
(Terimakasih Haifa sudah menolong menuliskan)

Cinta

Selamat pagi Cinta,
Dini hari telah tiba. Aku di sini, berbaring di kamarku, menatap jauh ke luar jendela. Ada pohon mangga di kebun sebelah, daunnya dihembus angin,  dan kulihat sepasang merpati di  salah satu rantingnya. Pasti mereka saling menyayangi, buktinya mereka berdua ada disitu,di tempat yang sama. Itukah kamu, Cinta? Kamukah yang hadir di antara mereka berdua? Entah....
Kali lainnya, kulihat induk ayam, mengais tanah bersama anak-anaknya. Lalu ia menurunkan tubuh seperti mengeram, dan si anak-anak berebut tempat di bawah induk mereka, ada juga yang menyembul di sayap induknya. Itukah kamu, Cinta? Kamukah yang hadir dalam hati setiap ibu?
Cinta, aku tak tahu bagaimana rupamu, dan juga tak mengerti seperti apa bentukmu, bagaimana ekspresimu. Aku cuma tahu bahwa kamu cantik memikat, membuat damai dan memberi energi yang luar biasa. Energi....Ya. Itu. Barangkali alasan itu yang membuatku pernah mengembara mencarimu, ke kaki langit, ke penghujung dunia, melangkahi jalan setapak dan rerumputan, membiarkan embun membasahi ujung-ujung jemari kakiku.
Aku pernah bertualang mencarimu, menyusuri lorong-lorong redup cahaya, melintasi malam hanya dengan cahaya satu bintang yang memanduku.
Aku tak berhasil menemukanmu, Cinta. Kamu seperti sengaja bersembunyi. Kurasakan ada, tapi entah dimana.
Aku pulang. Menyerah Berduka karena merasa gagal. Ternyata cerita tentangmu hanya ada dalam dongeng, di langit biru, di awan putih, di alam khayal yang tak realistis.
Aku berjanji tak akan lagi pergi mencarimu. Dan nyaris tak perduli apakah kamu ada atau tiada. Aku mau duduk manis saja, menikmati secangkir coklat hangat di ruangku yang hening.
Dan saat aku memutuskan hal itu. Di saat aku memutuskan untuk merasa nyaman dengan diriku ..... tiba-tiba kamu hadir dalam hidupku, ke sudut-sudut ruangku yang mungil, dari berbagai arah, yang bahkan  tak pernah terbayang olehku.
Tidak. Kamu tak perlu berkata-kata, tak perlu menjelaskan apapun. Aku tahu, paham dan sangat mengerti maksudmu. Aku sudah mendengarnya, tiba-tiba menggema dalam hatiku, suara lembut yang entah dari mana: "kamu tak perlu melangkah jauh mencariku, biarkan aku yang hadir, menelusup dalam hatimu...."
Jangan pernah pergi mencari cinta. Beri saja cinta, tebarkan pada dunia, lalu lupakan. Dia akan hadir, datang mencarimu, menghangatkan hatimu, memberimu energi yang luar biasa....
Selamat pagi Cinta.
Ini aku, merasakan kamu mendekapku erat-erat.


Bandung, 29 Desember 2013

Seimbang

Katanya, hubungan yang baik itu adalah hubungan yang membuat seseorang menjadi lebih baik. Artinya, kalau sebuah relasi tak membuat seseorang menjadi lebih baik, itu berarti ada yang meleset,  tak sepadan, tak seimbang. Yang lebih parah adalah apabila ada dua pihak, A dan B. Si A mendapat manfaat dan terus menerus menuju ke arah yang lebih baik, sementara si B tidak, tetap stabil dalam ketidakbaikan, kalau tak mau disebut mundur menjadi lebih buruk.
Itu namanya 'gak adil banget' dan super egois. Enak aja yang satu maju terus, gak mikirin yang statis dalam ketidakbaikan.
Eh, tapi si B yang "tertinggal" dalam keburukan ini gak keberatan kok kalau dia tenggelam disitu, dengan alasan "gak apa-apa, aku tak perlu dipikirkan, asalkan engkau merasa lebih baik, aku bahagia melihat orang lain lebih baik."
Hadeuh, ketahuilah bahwa si B itu adalah manusia super. Super egois. Dia bahagia melihat si A menjadi lebih baik. Dia sadar nggak ya bahwa si A juga ingin merasakan kebahagiaan yang sama?
Setiap orang yang berpikiran sehat, tentunya berharap bahwa orang di sekitarnya (apalagi orang yang dianggap dekat, disayangi) menjadi lebih baik. Baik secara umum saja, hidup dengan baik, jauh dari hal2 buruk secara fisik dan moral, hidup dengan baik, menjauhi hal2 tak baik. Sehat lahir batin.
Itu normal. Siapa sih yang berharap orang di sekitarnya menjadi sengsara? Apalagi kalau orang tersebut besar perannya dalam perbaikan dirinya. Tentunya akan sangat mengecewakan apabila "aku menjadi lebih baik karena dukunganmu dan engkau tetap begitu saja, dalam keterpurukanmu".
Orang yang tahu diri, inginnya "baik bersama", supaya adil, supaya win win solution, supaya sama2 senang. Tidak timpang.
Kalau timpang, berarti pesta lilin sudah terjadi. Seseorang berkorban menjadi lilin demi kebaikan orang lain.
Itu tidak adil, dan tidak seimbang.
Setiap orang yang berpikiran sehat, pasti berkeinginan untuk terus maju, terus menjadi lebih baik, terus memperbaiki diri, bersama-sama dengan orang yang telah mendorongnya maju.
Eh tapi, tiap orang punya latar belakang berbeda, punya motivasi dan keinginan masing2. Ada yang sungguh2 kuat berjuang memperbaiki diri, dan ada yang memang tidak serius dari sananya.
Jadi semestinya, tak usah feeling guilty atau kecewa. Setiap orang bisa maju dan menjadi lebih baik, tergantung diri orang itu sendiri. Mau atau tidak....tergantung kepribadian masing2, dan bukan tergantung orang lain.
Demikianlah.

Putih

Ini adalah hari pergantian tahun. Biasanya, orang menunggu tengah 
malam nanti, mungkin untuk melihat ledakan kembang api, mungkin untuk 
bersulang bersama, atau apa pun alasannya. 
Aku sendiri tak pernah sedemikian menanti saat pergantian tahun itu 
sampai terkantuk-kantuk. Bagiku sama saja, masih hari yang sama setiap 
minggunya, hari ini selasa dan besok rabu, dan semua hari adalah baik 
jika diawali dengan niat dan doa yang baik. 
Kalau pun ada yang kulakukan di saat pergantian tahun, biasanya adalah 
refleksi diri, yang juga kulakukan setiap awal Ramadhan. Melongok jauh 
ke dalam diri, memberanikan diri untuk melihat kekurangan-kekurangan 
diri, apa yang masih buruk, apa yang membaik, kebodohan apa yang masih 
kulakukan, ilmu apa yang bertambah, mundur atau majukah aku dari 
sebelumnya.... 
Ya. Itu yang biasa kulakukan. Aku tak punya waktu untuk membandingkan 
diriku sendiri dengan orang lain, untuk bersaing dengan orang lain, 
hanya punya waktu untuk membandingkan diriku sekarang dengan orang 
yang kulihat di cermin di hari kemarin. 
Jadi itulah yang juga kulakukan kali ini. 
Hmm, akhir tahun kali ini, rasanya hatiku memutih, seperti warna 
busana kesukaanku. Sungguh, memutih seperti salju yang pernah kulihat 
di Aiguille du Midi belasan tahun lalu. Putih, seperti awan 
kecil-kecil yang terbang di pagi hari. 
Aku merasa demikian damai. Dengan siapa pun, tak ingin berseteru dan 
bermusuhan. Kalau ada manusia emosional di sekitarku, aku pilih jalur 
lain saja, menghindar. Hal-hal seperti itu hanya membuang waktu dan 
energi saja. Juga segala yang ribet dan heboh serta kebanyakan bicara 
daripada solusi, itu pun kuhindari. Aku mau yang tenang dan baik-baik 
saja, tindakan yang simpel dan mengarah pada solusi untuk kebaikan 
diri. 
Dan menurut rasaku, semua itu putih warnanya, warna tenang, warna damai. 
Menyenangkan, bahwa di akhir tahun ini hatiku putih. Semoga menjadi 
awal yang juga benderang untuk tahun mendatang. Dan benderang, adalah 
warna terang, warna yang lebih baik, sebagai langkah perbaikan diri, 
dalam segala hal....

Kehilangan Sahabat Hati

Pernahkah merasa terhempas? Di saat kamu paling butuh semangat, ketika merasa berada di titik terendah dari hidupmu, ketika hidup terasa sedemikian keras dan menghimpit serta sarat cobaan, tiba-tiba kamu merasa sendirian, merasa ditinggalkan oleh seseorang yang sangat diharapkan memberi support. Seseorang yang ketika kondisimu baik terasa seperti teman seperjuangan. 
Sahabat hatikah namanya, seseorang yang menyapamu di saat kamu senang, dan hilang bersama angin di saat kamu sulit? Sahabat hatikah namanya, seseorang yang bisa tertawa bersamamu di saat kamu gembira, tapi tak menyodorkan saputangan atau bahu di saat air bening membuat matamu berkabut?
Entah. Aku tak tahu. Jangan tanya padaku. Aku tak tahu, karena tak pernah berlaku sedemikian. Aku pernah merasa ditinggalkan teman-teman ketika aku kecil dulu, dan itu menyedihkan. Aku tak mau orang merasakan luka yang sama. Kalau aku bisa tertawa bersama temanku di saat temanku sehat, aku tak akan meninggalkannya di saat dia kesakitan. karena dia lebih membutuhkanku pada saat itu....
Aku tak habis pikir dan terheran-heran kalau ada manusia yang hanya mendekat dan menyayang di saat senang, padahal sahabat hatinya itu selalu ada bersamanya di saat-saat dia merasa berada dalam kegelapan. Bagiku ajaib kalau air susu dibalas dengan air tuba.
Ah tapi, apa ruginya telah berbuat dan memberi yang terbaik bagi seseorang? Apa ruginya telah menjadi sahabat hati yang baik bagi orang lain? Meski tak mendapat balasan yang sama dari orang tersebut. Meskipun yang diberikan orang lain kepadanya malah luka dan duka....
Yang penting adalah apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Berikan yang terbaik, jadilah sahabat hati dalam senang dan susah.Tak usah berhitung. Kalau kemudian orang pergi meninggalkannya pada saat dia dalam kesakitan dan kesulitan, kesalahan tokh bukan pada dirinya.
Berikan yang terbaik kepada orang lain. Yang diberikan orang lain kepada kita adalah urusan orang tersebut dengan hati nuraninya sendiri, dan bukan lagi urusan kita....
Berbuat baik tak pernah rugi, tak akan pernah, selamanya....

Thursday, November 10, 2016

Cirebon, wisata pesisir Pantura

Cirebon, terletak di antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, di jalur Pantura. Para pemudik yang melewati jalur Pantura, tentunya akan mampir di Cirebon. Tak hanya sekadar mampir, Anda juga bisa mengeksplorasi berbagai tempat wisata menarik di Cirebon yang bisa menambah khasanah pengetahuan dan membuka mata dan cakrawala Anda.

Apabila berwisata ke Cirebon, Anda bisa membeli oleh-oleh khas Cirebon, seperti Teh Poci, Kerupuk Melarat, dan Docang. Perlu tempat menginap? Jangan kuatir, ada banyak hotel di Cirebon. Untuk kepraktisan pemesanan, gunakan aplikasi Traveloka yang bisa diunduh secara gratis di PlayStore.

Lalu, tempat-tempat wisata mana saja yang bisa Anda kunjungi selama berada di Cirebon? Berikut ini beberapa tempat yang direkomendasikan :

Taman Sari Goa Sunyaragi

Berada di Sunyaragi, Kesambi, Taman Sari Goa Sunyaragi adalah tempat bertapa keluarga Sultan Cirebon. Taman ini dibuka dari jam 08.00 sampai 18.00 WIB. Tempat ini telah dijadikan cagar budaya yang dilestarikan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Kota Serang. Sebagaimana umumnya sebuah goa, maka di Taman Sari ini ada goa yang terbuat dari batu karang.

Di sekitar taman, ada pohon-pohon tua yang meneduhkan dari cuaca panas. Tapi sebaiknya juga mengenakan pelindung kepala seperti topi dan payung untuk menghindari sengatan terik matahari. Goa yang ada di taman ini tidak hanya satu, tetapi ada banyak. Semuanya memiliki nama, di antaranya Goa Pengawal, Goa Pawon, Goa Peteng, dan lain-lain.

sumber : arachelyserena.blogspot.co.id

Ada juga kolam buatan yang cukup dalam. Hati-hati jika berwisata ke sana bersama anak-anak. Jangan lupa membawa makanan dan minuman sendiri. Anda juga bisa berkeliling goa bersama pemandu wisata yang akan menjelaskan sejarah singkat kesultanan Cirebon hingga terbentuknya goa tersebut.

Pemandian Cibulan

Terletak di Maniskidul, Jalaksana, Kuningan, tapi bisa ditempuh juga dari Cirebon. Sesuai dengan namanya “Pemandian,” maka di tempat ini ada dua kolam besar yang bisa digunakan untuk mandi dan berenang. Dengan kedalaman enam puluh dan seratus dua puluh sentimeter. Kedua kolam ini dilengkapi fasilitas tempat ganti, kamar mandi dan kamar kecil

Apa bedanya dengan kolam renang lain? Di kolam ini terdapat banyak ikan abu-abu yang disebut Kancra Bodas atau Ikan Dewa. Konon, ikan-ikan ini memiliki keistimewaan mistis. Menurut legenda, ikan-ikan ini adalah jelmaan para prajurit Prabu Siliwangi yang membangkang sehingga dikutuk menjadi ikan.
ikan dewa di pemandian Cibulan
Selain itu, di Pemandian Cibulan ini juga ada tujuh sumber mata air yang disebut tujuh sumur keramat. Ketujuh sumur itu memiliki nama masing-masing. Salah satu sumurnya berisi kepiting emas, yang dapat mengabulkan keinginan. Ya, namanya juga legenda, seringkali menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk datang ke suatu tempat.

Pemandian Cibulan ini berjarak dua puluh kilometer dari Cirebon.  Dibuka untuk para wisatawan dari hari Senin sampai Minggu, jam 08.00 sampai 17.00 WIB. Tiket masuk sekitar Rp15.000 (dapat berubah sewaktu-waktu).

Kampung Batik Trusmi

Siapa yang tak suka batik, kain khas asli produksi Indonesia yang sudah go internasional. Aneka jenis dan model pakaian batik dijual di mana-mana, bahkan sempat diklaim sebagai produk asli negara lain. Cirebon adalah salah satu produsen batik terbesar di Indonesia. Kampung Batik Trusmi merupakan pusat industri penghasil batik di Cirebon yang juga bisa dijadikan destinasi wisata Anda.

sumber : gotocirebon.com
Terletak di Plered, hanya empat  kilometer dari pusat kota Cirebon ke arah barat. Batik asal Cirebon memiliki motif batik pesisir, terpengaruh daerah pesisir Pantai Utara Jawa. Memasuki kampung ini, Anda akan disambut oleh deretan toko batik. Jangan lupa jelajahi kampung batiknya, banyak pemilik rumah di Trusmi yang menjadi produsen batik.

Harga kain dan pakaian batik yang sudah jadi cukup terjangkau, berkisar antara Rp75.000 sampai Rp200.000. Berbagai corak kain batik yang unik bisa dipilih, motif khas Cirebon adalah mega mendung, floral, dengan warna warni khas batik pesisir. Di Kampung Batik Trusmi, Anda benar-benar akan dimanjakan dengan produksi-produksi batiknya yang memukau. So, segera siapkan wisata menarik Anda di Cirebon.